Kamis, 01 Agustus 2019

Bisma Aplikasi Terbaru Dari Bekraf Bagi Pengusaha ekonomi Kreatif


Ratusan pengusaha ekonomi kreatif mengikuti acara Bigger yang di selenggarakan oleh Bekraf di Mataram hari ini, Kamis (1/8)
Mataram matantb.com- Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) hari ini Kamis (1/8) menggelar BIGGER (BISMA Goes To Get Member). Bisma merupakan platform bagi pelaku ekraf mendaftarkan diri maupun usahanya ke database resmi Bekraf. Aplikasi ini dapat diunduh melalui android maupun ios atau  melalui website  Bisma  https://bisma.bekraf.go.id/.


"Bisma dibangun dengan tujuan mendukung kepentingan pemerintah memperoleh data mikro ekonomi kreatif untuk menunjang perkembangan ekraf nasional. Sehingga kedepannya data ini dapat kami jadikan acuan untuk menyusun berbagai program maupun kebijakan yang tepat bagi para pelaku ekraf di masing-masing daerah” ujar Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf, Wawan Rusiawan saat menghadiri kegiatan Bigger Mataram, Kamis (1/8).


Keuntungan lain dengan adanya Bisma bagi pelaku ekraf di antaranya Be Updated dimana pelaku ekraf bisa mendapatkan informasi dan agenda terkini seputar kegiatan ekonomi kreatif yang difasilitasi oleh Bekraf. Be Marketed karena BISMA menyediakan etalase untuk memperkenalkan produk-produk ekonomi kreatif.


Be Supported dimana pelaku kreatif yang terdaftar menjadi prioritas utama memperoleh dukungan dan bantuan investasi bagi pelaku ekonomi kreatif. Be Integrated di mana usaha pelaku ekraf terintegrasi dalam database Bekraf, sekaligus terhubung dengan jejaring investor usaha kreatif di Indonesia. Keuntungan lainnya adalah Be Engaged dimana pelaku kreatif dapat terlibat langsung memberikan masukan melalui kuesioner online di BISMA untuk menyusun kebijakan yang terkait dengan pengembangan ekonomi kreatif nasional.


Wawan menambahkan, saat ini tercatat lebih dari 45.000 pelaku ekraf di Indonesia dengan 827  jumlah usaha ekraf di NTB yang sudah terdaftar di platform Bisma. Namun angka ini masih jauh lebih kecil dibandingkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2016) yang mencacat terdapat 8,2 juta jumlah usaha ekraf yang tersebar di seluruh Indonesia. Di Mataram sendiri tercatat baru 344 pelaku ekraf yang mendaftar melalui platform Bisma dari 17.193 pelaku ekraf yang ada. Untuk itu Bekraf menilai perlunya mendata secara rinci pelaku ekonomi kreatif dan usaha yang digeluti melalui sebuah platform khusus sehingga pelaku ekraf nasional bisa dipetakan secara mikro.


Mataram menjadi salah satu lokasi diselenggarakannya rangkaian BIGGER (BISMA Goes To Get Member) 2019 di Hotel Lombok Raya,  karena dalam Rencana Tata Ruang Nasional (RTRN), Kota Mataram ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang berfungsi sebagai pintu gerbang dan simpul utama transportasi serta kegiatan perdagangan dan jasa skala regional. Oleh karena itu Mataram dinilai memiliki banyak pelaku ekonomi kreatif karena ditunjang oleh posisinya sebagai salah satu destinasi wisata nasional.


Selain menyosialisasikan BISMA kepada pelaku ekraf Mataram, rangkaian kegiatan BIGGER ini juga dimaksudkan untuk memberikan fasilitasi pengembangan kapasitas mengenai pengemasan produk, pemasaran produk, teknik fotografi komersil hingga pengelolaan keuangan memperkenalkan program-program Bekraf lain yang mampu mengakselerasi perkembangan ekraf nasional.


Kegiatan ini dibuka oleh Deputi Pemasaran, Joshua Puji Mulia Simandjuntak dan dalam kesempatan tersebut turut hadir Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi, Sabartua Tampubolon; Direktur Hubungan Antar Lembaga Dalam Negeri, Hassan Abud; Co-Founder Filosofi Kopi, Handoko Hendroyon; Ahli Pengemasan Produk, Endang Warsiki; Direktur PT. Halal Ventures Indonesia, Harjono Sukarno; Community Manager Buka Lapak, Mega Tri Agustina dan Penulis Buku Smartphone Photography, Ariana Octavia.


Bigger menargetkan lebih dari 300 pelaku ekraf yang berasal dari Kota Mataram dan sekitarnya menghadiri kegiatan ini dan mendaftarkan usahanya ke Bisma. Melalui kegiatan ini Bekraf berharap dapat memperoleh data mikro yang valid mengenai data ekonomi kreatif untuk mendorong akselerasi ekonomi kreatif Indonesia melalui pemetaan program dan kebijakan yang tepat, sesuai dengan kebutuhan pelaku ekraf di masing-masing wilayah.(RZ)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar