Selasa, 12 Februari 2019

Rabies Penyakit Menular Yang Berbahaya


Rabies adalah penyakit yang sudah umum dikenali oleh berbagai kalangan, bahkan penyakit ini sering dibuat bercandaan. Sayangnya banyak masyarakat yang sekadar mengenalnya sebagai penyakit anjing yang bisa berdampak ke manusia yang digigitnya. Bahkan beberapa menganggap bahwa rabies bisa berefek seperti yang ada di film-film zombie.

Rabies berarti “gila” dalam Bahasa Latin. Rabies merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia dan/atau sebaliknya (zoonosis), yang disebabkan oleh virus. Sebagian kasus rabies yang terjadi di manusia disebabkan oleh gigitan anjing yang terinfeksi virus rabies.

Penyakit ini disebabkan oleh virus dari genus Lyssavarius yang berarti mengamuk atau kemarahan dalam Bahasa Yunani. Serupa dengan namanya, penyakit ini biasanya disebarkan oleh anjing atau kucing melalui gigitan atau air liurnya.

Penyakit ini menyebabkan kerusakan otak, sistem syaraf dan bahkan kematian. Hal ini hampir selalu menjadi fatal bila perawatan pasca gigitan tidak ditangani dengan cara dan waktu yang tepat.

Seperti diberitakan Detikcom, Selasa (11/2) Jumlah korban meninggal dunia akibat gigitan anjing di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), terus bertambah. Hingga Senin (11/2/2019), total warga yang meninggal berjumlah 6 orang. Adapun 619 orang lainnya digigit.

"Korban gigitan hingga kini sudah 619 orang, angka kematian jadi 6 orang, 5 orang di Kecamatan Kempo dan 1 orang Banggo Menggelewa. Korban itu semuanya kasus gigitan lama," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Dompu Zaenal Arifin.

Oleh Pemda Dompu, Kasus rabies sudah ditetapkan menjadi kejadian luar biasa (KLB) sejak 21 Januari 2019. Saat ini tim pengendalian virus rabies dari Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan memberikan vaksin untuk 1.729 ekor anjing peliharaan dan puluhan sapi serta 59 ekor kucing.

Gejala Rabies, Apa yang Harus Dilakukan?

Dikutip dari Kompas.com, berdasarkan data tahun 2013 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun rata-rata ada 55.000 korban meninggal karena rabies dan 95 persen dari jumlah tersebut terjadi di Asia dan Afrika. Sekitar 30 hingga 60 persen korban adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Sebelum hal buruk menimpa kita, drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Direktur Kesehatan Hewan dari Kementerian Pertanian RI menjelaskan beberapa gejala rabies pada hewan seperti anjing, kucing, dan kera.

Gejala rabies

Menurut Fadjar, anjing, kucing, atau kera yang terjangkit rabies akan menunjukkan perubahan sikap.

"Kalau kita lihat secara kasat mata, (mereka) menjadi beringas, takut air, takut keramaian," kata Fadjar saat menjadi narasumber dalam kegiatan temu media menyambut hari rabies sedunia, Kamis (23/08/2018), di kantor Kemenkes, Jakarta.

Kendati hewan menunjukkan perubahan sikap dan menjadi beringas, Fadjar menghimbau untuk tidak langsung mematikan mereka.

“Kadang kan kalau di beberapa daerah setelah digigit malah anjingnya yang dimatikan. Jangan begitu. Anjingnya bisa diidentifikasi apakah dia benar-benar mengandung rabies atau tidak,” ungkap Fadjar.

Sementara itu, manusia yang tertular virus rabies juga akan menunjukkan gejala yang hampir serupa dengan hewan penular rabies.

Menurut dr. Elizabeth Jane Soepardi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, gejala yang dirasakan oleh manusia adalah demam, tidak nafsu makan, dan nyeri kepala.

Gejala yang paling khas adalah takut pada cahaya, gelisah, dan takut keramaian," ujar Jane di tempat yang sama.

Apa yang Harus Dilakukan?

Fadjar mengatakan, dalam kurun waktu dua sampai tiga minggu, rabies pada hewan peliharaan akan membuat hewan tersebut mati.

Sehingga jika hewan peliharaan ada yang menunjukkan gejala seperti di atas, segeralah membawa mereka ke dokter hewan atau pusat pelayanan masyarakat terdekat.

Sedangkan masa inkubasi pada manusia bermacam-macam, bisa dari dua minggu hingga tahunan.

Menurut Jane, inilah yang membuat sulit karena kebanyakan manusia mangabaikan gigitan hewan peliharaannya.

"Rabies itu bersifat akut dan menyerang susunan saraf. Kalau sudah 100 persen sampai pada otak, dapat dipastikan korban itu akan mati," jelas Jane.

Saat digigit hewan yang tiba-tiba mengalami perubahan sikap menjadi beringas, Jane menyarankan untuk segera mencuci luka dengan sabun hingga bersih dan memeriksakan diri ke puskesmas terdekat untuk mendapat serum dan vaksin.

"Vaksinasi itu gratis, jadi kita bisa minta. Tapi, tentu kita harus tunjukkan kalau kita berisiko rabies. Seperti pekerjaan yang berada di lapangan itu bisa minta divaksin. Vaksinasi untuk hewan juga gratis kok. Karena ini dianggarkan APBN," tutur Jane.

Kendati penangan yang diberikan gratis, Jane dan Fadjar sepakat untuk tidak menunggu sampai rabies benar-benar menyerang manusia. Mereka menyarankan untuk melakukan vaksin pada hewan peliharan dan manusia sedini mungkin setiap satu tahun sekali. (cr@wan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar